Karna Parva

Bab 36

Section 36

36 'Duryodhana berkata, 'Orang ini, O Karna, akan bertindak sebagai pengemudimu, penguasa Madras ini, yang lebih tinggi dari Krishna, seperti Matali, pengemudi pemimpin surga. Memang benar, sebagaimana Matali mengambil alih kendali mobil tempat tunggangan Indra dipasang, demikian pula Shalya yang akan menjadi pengemudi tunggangan mobilmu hari ini. Dengan dirimu sebagai pejuang di kendaraan itu dan penguasa Madra sebagai pengemudinya, mobil terdepan itu pasti akan mengalahkan Partha dalam pertempuran.'" Sanjaya melanjutkan, 'Ketika pagi tiba, wahai raja, Duryodhana sekali lagi berbicara kepada penguasa Madra yang penuh dengan aktivitas besar, dengan mengatakan, 'Wahai penguasa Madra, pegang kendali dalam pertempuran kuda terdepan Karna. Dilindungi olehmu, putra Radha akan mengalahkan Dhananjaya.” Disapa demikian, Shalya, menjawab, “Baiklah,” naik ke mobil, wahai Bharata. Ketika Shalya mendekati mobil itu, Karna dengan hati gembira menyapa pengemudinya sambil berkata, “Wahai kusir, segera lengkapi mobil itu untukku.” Setelah melengkapi mobil kemenangan itu, yang paling terkemuka dari jenisnya, yang menyerupai rumah-rumah uap di langit, Shalya menyerahkannya kepada Karna, sambil berkata, "Terpujilah engkau, kemenangan bagimu." Kemudian Karna, prajurit kereta yang paling terkemuka, dengan sepatutnya memuja mobil yang pada zaman dahulu kala telah disucikan oleh seorang pendeta yang akrab dengan Brahma, dan mengelilinginya serta dengan hati-hati memuja dewa Surya, berbicara kepada penguasa Madra yang berdiri di dekatnya, sambil berkata, “Naik kendaraan.” Setelah itu Shalya yang berkekuatan besar menaiki mobil besar, tak terkalahkan, dan terdepan milik Karna itu seperti seekor singa yang mendaki puncak gunung. Melihat Shalya ditempatkan, Karna menaiki mobilnya yang luar biasa seperti Matahari mengendarai kumpulan awan yang dipenuhi petir. Ditumpangi dalam satu mobil, kedua pahlawan yang bermandikan kemegahan atau matahari api itu tampak gemerlap seperti Surya dan Agni yang duduk bersama di atas awan di cakrawala. Kemudian dipuja (oleh para penyair dan panegyrist), kedua pahlawan yang sangat cemerlang itu tampak seperti Indra dan Agni yang dipuja dengan himne dalam pengorbanan Ritwiks dan Sadasyas. Karna berdiri di atas mobil itu, yang kendali tunggangannya dipegang oleh Shalya, merentangkan busurnya yang tangguh, seperti Matahari sendiri di dalam lingkaran cahaya melingkar. Ditempatkan di atas mobil paling depan, harimau di antara manusia itu, Karna, dengan porosnya yang menjadi sinarnya, tampak indah bagaikan Matahari di pegunungan Mandara. Kepada putra Radha yang bertangan perkasa, pejuang dengan energi tak terukur, yang ditempatkan di mobilnya untuk berperang. Duryodhana mengucapkan kata-kata ini, "Wahai putra Adhiratha, wahai pahlawan, apakah engkau telah mencapai prestasi yang sulit dicapai, yang belum pernah dicapai oleh Drona dan Bisma di hadapan semua pemanah. Aku selalu percaya bahwa dua prajurit kereta perkasa itu, yaitu Bisma dan Drona, pasti akan membunuh Arjuna dan Bhimasena dalam pertempuran. Bagaikan pemegang kedua petir, wahai putra Radha, lakukanlah dengan hebat pertempuran mencapai prestasi yang layak bagi seorang pahlawan yang tidak dicapai oleh keduanya. Baik menangkap raja Yudhishthira yang adil atau membunuh Dhananjaya dan Bhimasena, hai putra Radha, dan putra kembar Madri. Terpujilah engkau, biarlah kemenangan menjadi milikmu. Kemudian ribuan terompet dan puluhan ribu genderang, dibunyikan bersamaan, menimbulkan suara seperti suara awan di welkin. Menerima kata-kata tersebut (dari Duryodhana), prajurit kereta terdepan yang ditempatkan di gerbongnya, yaitu putra Radha, berkata kepada Shalya, prajurit yang ulung dalam pertempuran, dengan mengatakan, "Doronglah kuda-kudanya, hai yang bertangan perkasa, agar aku dapat membunuh Dhananjaya dan Bhimasena serta si kembar dan raja Yudhishthira. Wahai Shalya, biarlah Dhananjaya melihat hari ini keperkasaan lenganku, ketika aku akan terlibat dalam menembakkan panah-panah yang bersayap bulu Kanka berjumlah ratusan dan ribuan. Hari ini, wahai Shalya, aku akan menembakkan panah-panah dengan tenaga yang besar demi kehancuran para Pandawa dan kemenangan Duryodhana.” "'" Shalya berkata, "Wahai putra Suta, mengapa engkau berpikir begitu rendah dari putra-putra Pandu, yang kesemuanya mempunyai keperkasaan yang besar, kesemuanya pemanah ulung, dan kesemuanya menguasai segala jenis senjata? Mereka tak kenal mundur, bernasib baik, tak terkalahkan, dan kecakapan tak mampu dibingungkan. Mereka mampu menimbulkan rasa takut di hati Indra sendiri. Ketika, putra Radha, kamu mendengar dentingan Gandiva dalam pertempuran, yang menyerupai gemuruh guntur itu sendiri, maka kamu tidak akan mengucapkan pidato seperti itu. Ketika engkau melihat putra Dharma dan si kembar membuat kanopi, seperti awan di welkin, dengan anak panahnya yang tajam, dan raja-raja lainnya yang tak terkalahkan (pasukan Pandawa), dilengkapi dengan tangan yang sangat ringan dan tembakan (hujan panah) serta melemahkan musuh-musuh mereka, maka engkau tidak akan mengucapkan kata-kata seperti itu.'” Sanjaya melanjutkan, 'Mengabaikan kata-kata yang diucapkan oleh penguasa Madra, Karna menyapanya dengan sangat aktif, mengatakan, 'Lanjutkan.''