Shanti Parva

Bab Cxc

Mokshadharma Parva - Section CXC

Bhrigu berkata, 'Kebenaran adalah Brahma; Kebenaran adalah Tobat; Kebenaranlah yang menciptakan semua makhluk. Dengan Kebenaran seluruh alam semesta ditegakkan; dan dengan bantuan Kebenaran seseorang bisa masuk surga. Ketidakbenaran hanyalah bentuk lain dari Kegelapan. Kegelapanlah yang mengarah ke bawah. Mereka yang dirundung Kegelapan dan tertutup olehnya tidak dapat melihat wilayah surga yang terang. Telah dikatakan bahwa Surga adalah Terang dan Neraka adalah Kegelapan. Makhluk-makhluk yang tinggal di alam semesta may obtain both heaven and hell. In this world also, truth and untruth lead to opposite courses of conduct and opposite indications, such as Righteousness and Unrighteousness, light and darkness, pleasure and pain. Amongst these, that which is Truth is Righteousness; that which is Righteousness is Light; and that which is Light is Happiness. Similarly, that which is Untruth is Unrighteousness; that which is Unrighteousness is Darkness; and that which is Darkness is Sorrow or Misery. In this respect Dikatakan bahwa mereka yang memiliki kebijaksanaan, menyadari bahwa dunia lira dipenuhi dengan kesedihan, baik fisik maupun mental, dan dengan kebahagiaan yang pasti berakhir dengan kesengsaraan, tidak pernah membiarkan diri mereka terbius hal. 36 makhluk tidak stabil baik di dunia maupun di akhirat.1 Kebahagiaan makhluk yang diliputi Kegelapan lenyap seperti kemegahan Bulan ketika ditimpa Rahu.2 Kebahagiaan dikatakan ada dua macam, yaitu jasmani dan batin. Baik di dunia ini maupun di dunia lain, buah (tindakan) yang terlihat dan yang tidak terlihat ditentukan (dalam Veda) demi kebahagiaan.3 Tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan dan di antara buah atau akibat dari kelompok tiga unsur kehidupan. Kebahagiaan itu diinginkan. Itu adalah atribut Jiwa. Baik Kebajikan maupun Keuntungan dicari demi kepentingannya. Kebajikan adalah akarnya. Ini memang asal usulnya. Semua perbuatan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan.' Bharadwaja berkata, 'Anda telah mengatakan bahwa kebahagiaan adalah objek tertinggi, saya tidak memahaminya. Sifat jiwa yang (katamu) sangat diinginkan ini tidak dicari oleh para Resi yang dianggap terlibat dalam sesuatu yang menjanjikan pahala yang lebih tinggi. Terdengar bahwa Pencipta tiga alam, yaitu Brahman yang pemarah, hidup sendirian, menaati sumpah Brahmacharya. Dia tidak pernah mengabdikan dirinya pada kebahagiaan yang diperoleh dari pemuasan nafsu. Juga, Penguasa ilahi alam semesta, penguasa Uma, mereduksi Kama (dewa keinginan) hingga punah. Oleh karena itu, kami mengatakan bahwa kebahagiaan tidak dapat diterima oleh orang yang berjiwa besar. Tampaknya juga bukan atribut Jiwa yang tinggi. Aku tidak bisa percaya pada apa yang dikatakan oleh diri ilahimu, yaitu, bahwa tidak ada yang lebih tinggi daripada kebahagiaan. Bahwa ada dua macam akibat sehubungan dengan perbuatan kita, yaitu munculnya kebahagiaan dari perbuatan baik dan kesedihan dari perbuatan berdosa, hanyalah pepatah yang beredar di dunia.' Bhrigu berkata, 'Mengenai hal ini dikatakan sebagai berikut: dari Ketidakbenaran muncullah Kegelapan. Mereka yang diliputi Kegelapan hanya mengejar Ketidakbenaran dan bukan Kebenaran, dikuasai oleh amarah, ketamakan, kedengkian, kepalsuan, dan kejahatan serupa. Mereka tidak pernah memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat, Sebaliknya, mereka ditimpa berbagai macam penyakit, kesakitan, dan kesusahan. Mereka juga tersiksa oleh Kematian, pemenjaraan, dan berbagai duka lainnya. baik hati, dan oleh kesedihan, karena kelaparan, kehausan, dan kerja keras. Mereka juga tersakiti oleh berbagai kesedihan fisik yang timbul dari hujan dan angin serta panas terik dan kedinginan. Mereka juga diliputi oleh berbagai macam penderitaan fisik dan mental yang disebabkan oleh kehilangan kekayaan dan perpisahan dari teman-teman, juga oleh kesedihan yang disebabkan oleh kemerosotan dan kematian surga disana juga wanginya abadi. Di surga tidak ada kelaparan, tidak ada kehausan, tidak ada kebobrokan, tidak ada dosa. Di dunia ini ada kebahagiaan dan kesengsaraan. Di neraka yang ada hanya kesengsaraan. Oleh karena itu, hal. 37 kebahagiaan adalah objek perolehan tertinggi. Bumi adalah nenek moyang semua makhluk. Wanita mengambil bagian dari kodratnya. Hewan jantan itu seperti Prajapati sendiri. Perlu diketahui, benih yang vital adalah energi kreatif. Dengan cara inilah Brahman menetapkan pada zaman dahulu bahwa penciptaan harus terus berjalan. Masing-masing, dipengaruhi oleh tindakannya sendiri, memperoleh kebahagiaan atau kesengsaraan.'"1 36:1 Kebahagiaan yang diperoleh di surga tidak kekal, durasinya dibatasi oleh derajat atau ukuran pahala yang diperoleh di sini. 36:2 Teori Pauranik tentang gerhana matahari dan bulan adalah bahwa Matahari dan Bulan dicari untuk dilahap oleh Daitya, Rahu. 36:3 Nampaknya Weda menyatakan buah-buah tersebut agar manusia dapat memperjuangkannya untuk mencapai kebahagiaan. 37:1Hampir seluruh bagian ini berbentuk prosa. Berikutnya: Bagian CXCI